Mengenal Tradisi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Bulan Suro: Antara Warisan Budaya Leluhur dan Semangat Persaudaraan
Bagi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Bulan Suro bukan sekadar pergantian tahun biasa. Ia adalah momen sakral yang menjadi tonggak spiritual, ajang mempererat persaudaraan antarwarga, sekaligus ruang pelestarian tradisi dan budaya leluhur yang telah diwariskan turun-temurun. Ribuan warga PSHT dari berbagai penjuru Nusantara bahkan mancanegara menyambut bulan ini dengan penuh semangat dan kekhidmatan.
Artikel ini hadir untuk menggali lebih dalam bagaimana PSHT memaknai Bulan Suro, apa saja tradisi yang dijalankan, serta bagaimana nilai-nilai luhur tersebut terus dijaga di tengah arus modernisasi.
Sejarah Singkat PSHT dan Kaitannya dengan Budaya Jawa
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) didirikan oleh Ki Hadjar Hardjo Oetomo pada tahun 1922 di Madiun, Jawa Timur. Berawal dari perguruan Setia Hati yang didirikan oleh Eyang Suro (Ki Ngabehi Soerodiwiryo) pada awal abad ke-20, PSHT berkembang menjadi organisasi pencak silat yang tidak hanya mengajarkan ilmu beladiri, tetapi juga membentuk manusia berbudi pekerti luhur.
Filosofi PSHT bertumpu pada lima panca dasar, yaitu: persaudaraan, olahraga, beladiri, kesenian, dan kerohanian. Kelima pilar ini mencerminkan keterpaduan antara dimensi fisik dan spiritual manusia. Dalam konteks budaya Jawa, PSHT menempatkan diri sebagai penjaga nilai-nilai luhur leluhur, termasuk dalam memaknai momen-momen penting dalam kalender Jawa seperti Bulan Suro.
Nama "Suro" sendiri memiliki keterkaitan historis yang erat dengan perguruan ini. Eyang Soerodiwiryo, pendiri perguruan induk Setia Hati, dikenal dengan panggilan "Eyang Suro", sehingga bulan Suro seolah menjadi simbol yang tak terpisahkan dari identitas komunitas Setia Hati, termasuk PSHT.
Makna Bulan Suro dalam Tradisi Jawa dan PSHT
Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Bulan Suro dipandang sebagai bulan yang istimewa sekaligus penuh misteri. Bulan ini diyakini sebagai waktu yang tepat untuk introspeksi diri, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta memohon keselamatan dan keberkahan. Tidak heran jika banyak masyarakat Jawa yang menjalankan laku tirakat atau prihatin menahan diri dari berbagai kesenangan duniawi selama bulan ini.
Bagi warga PSHT, Bulan Suro memiliki tiga lapisan makna yang saling berkelindan. Pertama, makna spiritual sebagai momentum untuk meningkatkan kualitas kerohanian dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Kedua, makna kultural sebagai sarana pelestarian tradisi dan identitas Jawa yang menjadi akar budaya perguruan. Ketiga, makna sosial sebagai ajang mempererat tali persaudaraan antara sesama warga PSHT dari berbagai wilayah dan generasi.
Tradisi-Tradisi PSHT di Bulan Suro
Malam Tirakatan
Malam tirakatan adalah tradisi yang paling khas dan tidak pernah absen dalam perayaan Bulan Suro PSHT. Pada malam ini, warga PSHT berkumpul bersama untuk berdoa, berdzikir, dan melakukan renungan spiritual. Tirakatan biasanya dimulai setelah Isya dan berlangsung hingga larut malam atau bahkan menjelang subuh. Suasana yang tercipta sangat khidmat, penuh dengan semangat kebersamaan dan penghayatan spiritual yang mendalam.
Kirab Budaya dan Pawai Obor
Kirab budaya dan pawai obor merupakan tradisi yang dilaksanakan sebagai ekspresi syukur dan kegembiraan menyambut Bulan Suro. Ribuan warga PSHT berjalan bersama membawa obor, mengenakan seragam khas perguruan, melewati jalan-jalan utama kota terutama di Madiun sebagai kota asal perguruan. Pawai ini juga menjadi sarana dakwah budaya kepada masyarakat umum tentang nilai-nilai persaudaraan dan kebersamaan.
Ziarah ke Makam Pendiri dan Sesepuh
Ziarah kubur ke makam para pendiri dan sesepuh PSHT menjadi tradisi wajib yang dilaksanakan menjelang atau selama Bulan Suro. Warga PSHT berziarah ke makam Ki Hadjar Hardjo Oetomo dan tokoh-tokoh pendiri lainnya sebagai bentuk penghormatan, doa, dan pengingat akan jasa-jasa para leluhur perguruan. Momen ini juga menjadi sarana transmisi nilai dan sejarah dari generasi ke generasi.
Pengesahan Warga Baru
Salah satu agenda paling dinantikan dalam Bulan Suro bagi anggota PSHT adalah prosesi pengesahan warga baru. Calon warga yang telah melewati proses latihan dan pembinaan panjang akan dinaikkan statusnya menjadi "warga" dalam sebuah prosesi sakral yang sarat makna. Pengesahan di Bulan Suro dianggap memiliki nilai tersendiri karena bulan ini dipandang sebagai waktu yang istimewa secara spiritual.
Tradisi Cuci Mori
Cuci mori adalah salah satu tradisi paling sakral dan unik yang dilaksanakan oleh warga PSHT pada Bulan Suro. Mori merupakan kain kafan putih yang dalam tradisi PSHT memiliki makna simbolis yang sangat dalam, ia adalah kain yang kelak digunakan untuk membungkus jasad manusia saat meninggal dunia. Oleh karena itu, mori dipandang sebagai simbol kesadaran akan kematian, kesementaraan hidup, dan pentingnya mempersiapkan diri secara spiritual.
Makna dari tradisi cuci mori tidak sekadar membersihkan kain secara fisik. Secara filosofis, prosesi ini mengandung pesan mendalam tentang penyucian diri membersihkan jiwa dari segala kotoran batin, dosa, dan sifat-sifat buruk yang telah menempel sepanjang tahun. Warga PSHT diajak untuk merenungkan bahwa kehidupan di dunia ini bersifat sementara, dan persiapan terbaik adalah dengan menjaga kebersihan hati, pikiran, dan perbuatan.
Jadi Tradisi PSHT di Bulan Suro adalah cerminan sempurna dari harmoni antara warisan budaya leluhur dan semangat persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Melalui berbagai prosesi dari tirakatan, kirab budaya, ziarah, pengesahan warga baru, hingga cuci mori PSHT berhasil menghadirkan ruang di mana dimensi spiritual, kultural, dan sosial bertemu dan saling menguatkan.
Lebih dari sekadar ritual tahunan, tradisi Suro PSHT adalah pernyataan identitas: bahwa PSHT adalah organisasi yang berakar pada nilai-nilai luhur budaya Jawa, namun terbuka dan relevan untuk seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Ke depan, pelestarian tradisi ini bukan hanya tanggung jawab para sesepuh dan pengurus, tetapi juga seluruh warga PSHT dari yang termuda hingga yang tertua untuk bersama-sama merawat warisan yang tak ternilai ini bagi generasi yang akan datang.

Komentar
Posting Komentar